Kamis, 10 April 2014

Musik Puisi Romantis

Untuk download musik romantis klik Download Di Sini

MENTARI DI TENGAH HUJAN

Langit mendung menghiasi suasana indah nan sejuk kota Bogor. Sisa-sisa air hujan masih membasahi dedaunan yang menghijau. Udara dingin mulai terasa namun sang surya mengalahkannya. Seorang gadis berkerudung berjalan menyusuri jalan yang sunyi seakan tak ada manusia disana selain dia. Gadis itu memandang sekeliling seakan tempat itu adalah tempat yang sudah sangat ia kenal. “Pak, permisi… dulu disini ada rumah pohon kan? Dimana ya sekarang?” Tanya gadis itu kepada seorang petani yang kebetulan sedang lewat. “Apa yang adik maksud rumah pohon di pohon rambutan?” “Iya pak, bapak tau?” “Adik jalan aja terus ke timur nanti adik akan ketemu rumah pohon itu.” “Terimakasih pak… saya permisi… assalamualaikum.” Kata gadis itu sambil berjalan menuju tempat yang ditunjukkan bapak tadi. Tak berapa lama gadis itu telah menemukan apa yang ia cari. Gadis itu berjalan berkeliling melihat-lihat. Senyumnya mengembang saat ia menemukan sebuah tulisan di sebuah pohon. “Tulisan ini ternyata masih ada… aku bahkan sudah lupa pernah iseng nulis ini.” Batin Gadis itu. Gadis berkerudung itu seakan bernostalgia tentang masa lalunya. Saking asyiknya ia bahkan lupa tujuan ia kembali ke tempat itu setelah bertahun-tahun ia tinggalkan. ingatannya tentang cinta monyet di masa kecil terputar kembali di ingatannya. Suara dering hpnya membuyarkan semua lamunan gadis cantik itu. Ada telepon dari Ayahnya yang menyuruhnya untuk segera pulang ke rumah karena ada sesuatu yang ingin beliau bicarakan. Dengan sedikit terpaksa gadis itu bangkit dan berjalan pergi meninggalkan tempat kenangan itu. Tanpa gadis itu sadari gelang yang sedari tadi melingkar di tangannya terjatuh tepat di dekat tangga rumah pohon itu. Berselang beberapa menit setelah kepergian gadis itu seorang lelaki muda datang menghampiri rumah pohon itu. Lelaki itu berjalan menghampiri tangga dan menemukan gelang milik gadis tadi. “Gelang ini?” gumam lelaki itu sambil mencari-cari pemilik gelang itu. Namun tak ada satu orang pun yang ia temui di tempat itu. Dengan keyakinan yang besar lelaki itu berlari meninggalkan rumah pohon itu. Dering di hpnya tak bisa menghentikan langkah kakinya hingga langkahnya terhenti di sebuah rumah yang dulu sering ia datangi. “Assalamualaikum..” salam cowok itu “Waalaikumsalam… mau cari siapa ya?” Tanya seorang ibu separuh baya “Tante Santi? Saya Hasan tante…” “Hasan putranya mbak Asih?” “Ia tante… tante kapan datang?” “Kemarin malam… ayo masuk dulu… udah lama kan kamu gak main kesini… terakhir sebelum kami pindah ke Surabaya kan…?” “Iya tante…” kata hasan sambil mengikuti tante santi masuk ke dalam rumah. “Kok sepi tante…? Raisya kemana tan?” “Kamu kesini pasti cari Raisya kan? Dia baru aja pergi sama ayahnya” “Pergi? Kemana tante?” “tante juga kurang tahu… mungkin bentar pulang…” “ya udah tante kalau gitu saya pamit aja… saya ada janji sama temen.. nanti malam insyaallah saya kesini lagi… assalamualaikum.” “Waalaikumsalam.” Hasan pergi meninggalkan rumah itu dengan sedikit rasa gembira. Orang yang selama ini ia tunggu-tunggu kehadirannya akhirnya dia kembali juga. Seorang gadis cantik berambut panjang berjalan menghampiri hasan yang sedang melamun di depan rumahnya. Sambil tersenyum gadis itu menutup mata Hasan. “Udah deh gak usah pake nutup-nutup mataku… aku tau ini kamu…” kata hasan santai “Kok kamu bisa tau sih?” “Iya lah… ada apa?” “Kok ada apa sih? Kamu lupa kamu kan udah janji mau makan malam sama aku… kamu lupa? Please deh sayang penyakit lupamu itu jangan kambuh lagi donk.” “Iya udah aku siap-siap dulu… kamu tunggu sini okey.” Kata hasan sambil bangkit dari tempat duduknya. Sedang gadis cantik itu tersenyum senang. Gadis berambut panjang itu adalah Aurel… gadis yang sudah menjadi kekasih Hasan beberapa bulan yang lalu saat tanpa sengaja mereka bertabrakan di perpustakaan kampus. Sejak saat itulah tanpa menyerah Aurel terus mendekati Hasan hingga kini dia berhasil memiliki lelaki yang memiliki tahi lalat kecil di kening sebelah kanan itu. “Sayang kamu kenapa sih? Kok dari tadi diam aja? Makanan kamu juga gak kamu makan dari tadi. Ada masalah?” Tanya Aurel saat mereka telah makan di cafe. “Ah enggak Cuma lagi kurang enak badan aja aku… kamu udah selesai makannya?” kata Hasan menyembunyikan kegelisahannya “Udah… ayo kita pulang.. kamu kan juga lagi gak enak badan…” “Makasih ya kamu udah mau ngertiin aku… yuk kamu aku antar pulang.” Hasan benar-benar bingung dengan hati dan pikirannya yang sedari tadi hanya ada ingatan-ingatan masa kecil bersama gadis cinta monyetnya dulu. Bahkan Hasan sudah tak sabar ingin bertemu dengan gadis itu. Setelah mengantar Aurel pulang Hasan langsung meluncur menuju rumah Gadis masa kecilnya. “Assalamualaikum…” kata Hasan setibanya di rumah bercat coklat “Waalaikumsalam… maaf cari siapa ya?” Tanya Gadis berkerudung yang membuat hasan terpana. “Cari Raisya… bisa bertemu dengan dia?” “Saya Raisya… anda siapa?” Tanya gadis itu bingung. “Kenalin gue anak cowok yang loe tinggalin 8 tahun yang lalu…” “subhanallah… kak hasan? Kamu kak Hasan?” “Iya gue Hasan sya…” “ayo kak masuk…” “Makasih..” “Darimana kakak tau aku udah balik kesini lagi?” “Jangan panggil gue hasan kalau gue gak bisa tau dimana lokasi loe sekarang… loe lupa kita itu punya ikatan batin yang kuat…” “Bohong banget…” “Ini milik loe kan? Gue nemu ini di tangga rumah pohon tadi sore… thanks ya loe masih nyimpen gelang ini…” “Gelang itu kan amanah dari kakak… dan aku punya kewajiban untuk menjaganya.” “Loe berubah banget sekarang? Gue aja sampe pangling lihat loe tadi. Loe tambah cantik…” “Kakak juga berubah kok… aku tadi kan juga gak ngenalin kakak.” Obrolan-obrolan pun terus berlanjut. Mereka saling bertukar cerita seputar pengalaman mereka selama perpisahan itu. Mereka saling melepas rindu yang telah lama mereka pendam bertahun-tahun lamanya. Pertemuan itu ternyata tak berhenti sampai di malam itu saja. Mereka sering bersma seperti 8 tahun yang lalu. Kedekatan mereka membuat Hasan sering berbohong kepada Aurel kekasihnya. Kerinduannya pada Raisya ternyata mampu menghilangkan semua perhatian yang dulu selalu ia tujukan kepada Aurel Perubahan sikap Hasan mulai dirasa oleh Aurel. Hasan kini tak lagi sama seperti Hasan yang dulu. Kini Hasan jarang mengiyakan permintaan Aurel dengan berbagai macam alasan. Raisya pun juga merasakan ada yang disembunyikan oleh Hasan. Sikapnya yang dulu terbuka kini sedikit tertutup kepadanya. “Kak…” Tanya Raisya suatu hari saat Raisya bersama Hasan. “Ada apa?” Tanya Hasan santai “ini foto siapa?” Tanya Raisya sambil menunjukkan sebuah foto gadis cantik berambut panjang. “Dari mana loe dapet foto ini?” “Kemarin gue gak sengaja nemuin di bawah meja saat loe pergi… ini cewek loe?” Hasan tak menjawab pertanyaan Raisya. Raisya memandang mata Hasan penuh tanya. Hasan mengambil nafas dalam sebelum menjawab pertanyaan Raisya. “Iya dia cewek gue… 3 bulan lalu gue sama dia jadian.” Kata Hasan memandang wajah Raisya yang mulai mendung. “Hmmm…” kata Raisya sambil memalingkan wajahnya dari tatapan mata Hasan. “maaf…” Kata Hasan “maaf? Emang loe salah apa sama gue?” “Gue…” “Ternyata kamu disini… tadi aku ke rumah kamu tapi kata bibik kamu lagi keluar… ternyata kita malah ketemu disini… ini siapa?” Kata Aurel mengejutkan Hasan dan Raisya “Dia…” “Gue Raisya… gue bukan siapa-siapanya dia kok tadi kebetulan aja tempat ini ramai makanya gue numpang duduk disini… ya udah gue pergi dulu… makasih tumpangannya.” Kata Raisya sambil pergi meninggalkan Hasan dan Aurel “Maafin gue kak… gue harus bohong…” Batin Raisya “Kamu kenapa kok bengong gitu…” “gak papa… kamu ada apa nyariin aku?” Aurel menceritakan perihal dia menemui Hasan. Sedang Raisya berlari menjauh dari tempat itu sambil menahan air matanya. Raisya menghentikan langkah kakinya menuju rumah pohon tempat dimana ia dan Hasan sering bertemu. Raisya memandang sebuah tulisan di pohon besar yang menopang rumah pohon itu. Air matanya mengalir. Sakit di hatinya begitu menyiksa. Penyesalan di dalam hatinya seakan tertawa melihat keterlambatannya. Titik-titik hujan mulai membasahi dedaunan hijau. Langit seakan ikut merasakan kesedihan Raisya. Di dalam dinginnya hujan Raisya meratapi semua takdir yang tak lagi berpihak kepadanya. 8 tahun ternyata telah mampu membuat Hasan melupakan semua janjinya kepada Raisya. “Sya gue tau loe ada di atas… turun sya… ada yang perlu gue jelasin ke loe sya… please turun sya…” Teriak Hasan di tengah derasnya air hujan. “Sya gue tau loe kecewa sama gue… gue tau gue salah… gue tau gue udah ingkar janji tapi gue gak pernah lupa sama janji gue ke loe 8 tahun lalu sya… kalaupun gue pacaran sama Aurel itu karena… karena… karena gue jenuh… gue jenuh nungguin loe yang pergi tanpa kabar… gue takut penantianku tak berujung… makanya saat gue tanpa sengaja mengenal Aurel gue merasa sosok loe ada di dalam diri loe… sikap loe yang manja… cengeng.. cerewet.. semua ada pada dia… gue tau loe tetaplah loe… gadis unik yang selalu dan selamanya gue cintai sya… gue cinta sama loe sya…” Kata Hasan tetapi tak ada jawaban dari Raisya. Raisya hanya meneteskan air matanya. Dia bingung dengan semua yang terjadi… dia senang karena ternyata cintanya tak bertepuk sebelah tangan… tapi di sisi lain dia juga gak mau jadi manusia yang egois bagaimanapun Hasan telah dimiliki oleh Aurel meski cintanya untuk Raisya bukan Aurel. Di tempat yang tak jauh sesosok gadis cantik berambut panjang itu menangis di tengah hujan. Hatinya sangat sakit, kekasih yang selalu dipujanya ternyata tak mencintainya selama ini. “Sya… tolong loe turun sya… gue gak mau loe giniin gue… cukup sya 8 tahun loe ninggalin gue… gue gak mau kehilangan loe lagi… kalau perlu gue mau mutusin Aurel sekarang juga asal loe mau maafin gue…” “Jangan… aku mohon jangan…” Kata Raisya terisak sambil melangkah menuruni tangga. “Jangan… loe jangan mutusin Aurel… dia sangat mencintai kamu… aku gak mau kedatanganku di dalam hidupmu lagi menyakiti hati orang lain… cukup biar gue yang tersakiti… loe jaga dia..” kata Raisya sambil menangis. “Tapi Sya… aku…” “Kak… bagiku udah cukup… aku udah sangat bahagia kakak masih mencintaiku… aku bahagia denger itu semua…” “Aku yang harusnya pergi bukan kamu Sya… aku yang tiba-tiba aja datang di kehidupan kalian… aku yang udah buat keadaan ini semakin sulit… aku yang udah buat Hasan ingkar janji…” “Aurel? Gue bisa jelasin semua ini ke loe…” kata Hasan panik “San loe gak perlu jelasin apa-apa ke gue… gue udah tau semuanya… gue yang harusnya minta maaf. Harusnya gue gak maksa loe buat cinta sama gue… gue yang akan pergi… kalian berhak bahagia…” “Tapi kak… Kak Hasan sebenarnya…” “Sya… cukup… gue gak papa kok… gue yakin suatu saat nanti entah kapan Tuhan pasti ngirimin gue seseorang yang jauh lebih baik dari Hasan… jaga dia baik-baik San…” Kata Aurel sambil memeluk Raisya di tengah derasnya hujan. “Makasih kak…” Kata Raisya Di tengah hujan yang mulai mereda, Dua hati yang pernah terpisah lama itu pun bersatu kembali setelah beberapa kali berperang dengan batin mereka masing-masing. Tuhan telah menunjukkan kuasanya… Dia telah mampu menyatukan dua hati itu. Mentari itu bersinar cerah di tengah derasnya hujan sore itu. -Tamat- Cerpen Karangan: Nur Ratnawati Facebook: Nur Ratnawati

Rabu, 09 April 2014

CINTA SEJATI

CINTA SEJATI Puisi Adelia Lintang Kirana Ku bangun istana cinta diatas setiaku Ku lindungi dindingnya dengan percayaku Ku hiasi semuanya dengan keihklasanku Ku rawat keteguhanya dengan ketulusanku Dan ku ciptakan kedamaian dengan kasih sayangku Andai takdir tak merenggutmu Andai ku bisa menjaga keabadian hidupmu Aku bukan Tuhan Yang Maha Mampu Mengendalikan semua apa yang ku mau Aku juga bukan malaikat penjagamu Yang slu menemanimu sepanjang waktu Ku hanya kasih dalam hatimu Cinta dalam hidupmu Rindu dalam nafasmu Yang kan tetap hidup dalam sanubarimu

MENCINTAI ITU BUKAN BERARTI MEMILIKI

MENCINTAI ITU BUKAN BERARTI MEMILIKI Puisi JN Aku mencintai mu, seadanya diri mu tiada yang lain nama mu indah terpahat di dalam hal ini... Aku mencintai mu.. bersama kerinduan tiada bertepi dari pagi yang indah hingga malam yang nyaman tiada terhitung rindu ini Aku mencintai mu, dari segala kelebihan mu dan dari segala kekurangan mu Aku mencintai mu, tiada yang dapat ku persembahkan tiada kata berkias seindah rembulan malam tiada kata berkias seindah terbitnya mentari.. Aku cintai mu, tanpa mengharap diri mu menjadi milik ku abadi.. kerana aku mencintai mu dengan, hati yang paling iklas..hanya pada mu sayang! kerana ku tahu, Mencintai Itu Bukan Bererti Memiliki.. Dan Semoga cinta ku akan setia hanya pada mu.. Semoga ya sayang!eeemmm! Sumber:

Say My Name

Author Mitsu Rui "Kalau begitu berjanjilah... Jangan pernah berhenti memanggil namaku... Tetaplah sebut namaku dimanapun kau berada... dan untuk seterusnya, mari kita terus bersama-sama seperti ini... selamanya..."/NaruHina always/For NaruHina Fluffy Day#5!/ . . . . . Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto Warning: Klise, miss typo(s), OOC, AU Ficlet/Drabble for NaruHina Fluffy Day #5 . . "Naruto-kun?" Dapatkah kau memanggil namaku lagi? Sekali lagi? Aku hanya ingin mendengar suaramu. Suaramu yang memanggil namaku. Itu membuat jantungku berdebar dengan cara yang mengejutkan. Caramu memanggilku dengan nama kecilku ditambah suffiks –kun. Tidak seperti kebanyakan orang yang memanggilku dengan cara formal. Aku tidak pernah berpikir aku pantas mendapat panggilan penuh arti seperti itu. "Naruto-kun, kau ada di mana? Makan siang sudah siap." Kenapa dengan orang lain berbeda? Kenapa kau dapat memanggil nama orang lain dengan biasa tanpa rasa gugup dan rona merah di wajahmu? Sementara saat kau memanggil namaku? Kau selalu gugup bahkan sering kau menunduk dan tidak berani melihat wajahku. Kenapa? Tapi meskipun begitu... aku tetap menyukai caramu berbicara padaku. "Ah, Naruto-kun mungkin ada di atap. Aku akan memanggilnya sebentar. Kalian tunggu sebentar ya, Kiba, Shino!" Aku ingin tahu apakah kau sungguh-sungguh melihatku... bahwa aku ada dalam pikiranmu sekarang. Nada suaramu, caramu memanggilku, suaramu yang terdengar goyah saat kau selesai berbicara, dan rona merah matahari senja yang selalu menghiasi wajah putihmu... Meskipun sudah berulang kali aku mendengar dan melihatnya, aku tetap menemukan diriku yang tidak bisa menahan getaran asing yang sangat menyenangkan setiap kali mendengar suaramu memanggilku. "A-Aah, ternyata kau benar ada di sini, Naruto-kun. Umm~ A-Aku harap aku tidak menganggumu... Se-Sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu... A-Apa kau baik-baik saja? Uh..." Aku suka semua caramu memanggil namaku. Saat kau sedang bahagia, atau terkejut, bahkan di saat kau bersedih dan menangis... atau marah? Atau takut? Tapi aku lebih suka saat kau tersenyum dan tertawa. Kau terlihat sangat manis. "Aku tidak apa-apa. Tidak perlu khawatir. Aku akan segera ke sana." "Ah, baiklah! Umm... Makan siang sudah siap dan aku sudah menyiapkan ramen... A-Aku tahu Naruto-kun sangat suka ramen jadi..." "Hinata..." "Y-ya, Naruto-kun?" "Tidak. Tidak apa-apa." Apa kau pantas mendapatkan semua perhatian seperti ini dari dirimu? Apa aku egois, jika aku menginginkan semua perhatianmu itu hanya untuk diriku saja? Karena sungguh, aku membutuhkan semua itu... semua yang ada pada dirimu, untukku. "Naruto-kun?" Semua ini tidak akan pernah berubah. Hanya dengan mendengar suaramu membuat semua ketakutan dan kekhawatiranku menghilang. Aku tidak akan pernah melupakan semua perhatianmu, kehangatan hatimu, kebaikanmu, dan semua yang telah kau berikan untukku. Banyak orang mengatakan aku seperti matahari. Tapi bagiku, kau adalah matahari. Seperti seberkas sinar matahari yang menyentuh tubuhku dengan lembut, yang akan membuat setiap nafasku menjadi lebih berarti. Bagiku, kau adalah sinar matahari selama badai yang terjadi dalam hidupku, yang selalu menopangku, mendukungku, dan mengenggam tanganku di saat aku jatuh dan putus asa... ... dan semua yang kau berikan tidak akan pernah datang terlambat, seperti matahari yang tidak pernah terlambat menyinari bumi... "Hinata... Namaku... Dari tadi kau terlalu sering memanggil namaku , apa kau sadar?" Apa kau merasakan hal yang sama seperti diriku saat aku memanggil namamu? "E-Ehhh? Ma-Maafkan aku... Apa itu menganggumu? Ka-Kalau begitu aku akan berusaha untuk tidak sering memanggilmu..." Lagi-lagi seperti ini... Kenapa wajahmu selalu merona seperti itu di hadapanku, Hinata? Kenapa kau selalu memanggil namaku seperti itu? "Bukan itu maksudku, Hinata. Kau boleh memanggil namaku kapanpun kau mau." Oh, crap! Apa yang baru saja aku katakan? "Be-Benarkah? Syukurlah... Karena aku... Aku menyukai nama Naruto-kun... Sangat suka..." Aku mengernyit. "Maksudmu?" "A-Aku suka setiap kali aku memanggil namamu, Naruto-kun... Dengan memanggilmu... aku merasa kita selalu dekat dan umm... aku selalu merasa nyaman dan bahagia saat memanggil namamu..." "O-Oh..." Jadi, itukah yang kau pikirkan Hinata? Terima kasih, Hinata. Aku senang. Aku hanya ingin kau selalu memanggil namaku. Karena saat kau memanggil namaku, itu berarti kau memperhatikanku, kau menyadari kehadiranku, dan kau selalu ada bersamaku, di sampingku. "Benarkah? Ya... Aku pikir... Aku juga menyukai namamu, Hinata..." "E-Ehhh? Te-Terima kasih Naruto-kun..." Kau tidak akan tahu betapa berartinya kata-kata itu untukku... "Kalau begitu berjanjilah... Jangan pernah berhenti memanggil namaku... Tetaplah sebut namaku dimanapun kau berada... dan untuk seterusnya, mari kita terus bersama-sama seperti ini... selamanya..." Memang... Harus kuakui... Kalau diri ini lebih dari sekedar membutuhkan dirimu di sisiku... Dan aku ingin kau tahu... Kalau keberadaanku... tidak akan pernah lengkap tanpa adanya dirimu. . . FIN Sumber:

Selasa, 08 April 2014

Sweet Drable

Naruto © Masashi Kishimoto Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto, saia cuma numpang minjem Rated T Genre : Romance, Friendship, Fluff #maybe# Pair : ChibiNaru x ChibiHina Warning : Typo, OOC, dan teman-temannya yang lain For NHFD #5# . . . . Enjoy~ Kepolosan Hinata dan Naruto saat mereka duduk di bangku kelas dua sd. Entah apa yang membuat keduanya bisa terlihat menggemaskan sampai-sampai tidak sadar dengan perbuatan mereka sendiri bisa membuat semua yang melihatnya melting seketika. oOoOoOoOoOoOoOOo Main Kejar-Kejaran~ Saat ini pukul empat sore, taman Konoha tengah di penuhi oleh orang-orang yang ingin berjalan-jalan atau sekedar menenangkan pikiran, banyaknya anak-anak kecil yang turut serta bermain di sana. Termasuk.. "Ahahaha! Ayo kejar aku Hinata!" seruan seorang anak kecil berambut pirang jabrik terdengar nyaring dari taman, pemuda kecil itu melambaikan tangannya seraya berlari pelan, memperlihatkan senyuman lima jarinya pada sahabat indigonya di belakang sana. Hinata Hyuga, "Naruto-kun kau larinya cepat sekali~" gadis kecil berambut pendek itu terlihat sedikit lelah mengejar sahabat di depannya, Naruto Uzumaki. Ya, mereka hanya sedang main kejar-kejaran saja kok, dan kebetulan Hinata yang jadi pengejarnya atau dalam kata mereka sih Naruto jadi pencurinya, dan dia jadi polisinya. Permainan yang simple. "Hee, aku sudah memelankan lariku lho, ahaha!" Naruto masih berlari dan tak lupa tertawa geli melihat Hinata yang terlihat kesal melihatnya semakin menjauh. Gadis indigo itu memang sedikit kesal, pipinya mengembung tanpa sadar, bibirnya mengerucut pelan, hah menggemaskan sekali~ "Naruto-kun kan larinya memang cepat, haaa, Naruto-kun kakiku capek.." tanpa ia sadari rengekan kecil mulai keluar dari bibirnya. Gadis mungil itu memang lelah mengejar Naruto sejak tadi, dan hasilnya selalu saja ia tidak berhasil menangkap sahabat pirangnya. Dan Naruto yang tak sengaja mendengar rengekan dari Hinata, langsung saja memelankan larinya. Sepertinya rengekan Hinata tadi ampuh untuknya, pemuda itu berjalan sepelan mungkin, "Naruto-kun, jangan lari lagi~" ujar Hinata sekali lagi, tangan mungilnya pun mencoba menggapai-gapai baju Naruto, berharap bisa menangkapnya dan menghentikan gerakan sahabat pirangnya itu. Naruto makin merasa gemas melihat tingkah Hinata, keringat yang mengucur dari pelipis gadis indigo di belakangnya itu membuat ia tanpa sadar.. "Huaa, aduh tenagaku habis!" Naruto berteriak kecil, menghentikan larinya. Melirik sekilas ke arah Hinata yang mendengar jelas teriakannya tadi, dan seperti yang ia kira. Gadis indigo itu melihat Naruto berhenti, tanpa membuang-buang waktu lagi... Drap, Drap! "Hyaa! Naruto-kun ketangkap!" Hinata berlari dengan sisa tenaganya, menerjang sang pemuda pirang, dan memeluk tubuh Naruto erat, seolah tidak ingin melepaskannya. Gadis kecil itu terkikik geli, "Kyahaha, Naruto-kun tidak bisa lari lagi lho, sudah aku tangkap, ahaha!" serunya pelan, Naruto yang melihat Hinata tersenyum, menghela napasnya panjang, Yah sekali-kali mengalah tidak apa-apa kan~ "Hah, aku kalah~" desah anak kecil pirang itu berpura-pura sedih. Sedangkan Hinata, "Ehehe, jadi hari ini Naruto-kun sukses jadi tangkapanku, jangan lari-lari lagi ya?!" ujarnya seraya memperlihatkan manik Lavendernya yang membundar, menatap manik Saphire Naruto senang. "Oke, oke, tapi besok aku yang jadi polisinya! Akan kutangkap kau Hinata~" tangan tan Naruto menepuk-nepuk puncak kepala Hinata, dan dengan senyum polosnya, Ia mengusap pipi Hinata yang sedikit kotor oleh tanah, tak lupa menyeka keringat di pelipis gadis itu lembut. "Pipimu kotor sekali~" candanya. Membuat Hinata mengerucut sekilas, dan entah kenapa ia malah ikut-ikutan menunjuk pipi tan Naruto, mencubitnya pelan, dan menghapus keringat pemuda kecil itu tanpa merasa jijik sedikit pun. "Hee, kau lebih kotor Naruto-kun~" ujarnya cepat. OoOoOoOoOoOoOoOoO Tidak sadarkah mereka, kalau sekarang ini di sekitar keduanya. Para ibu-ibu dan orang-orang di sana tengah menjerit histeris mencari-cari handphone serta kamera dan memfoto adegan terunyu, terpolos dari kedua anak kecil itu dengan secepat dewa~ "Kyaaa! Kawaii!" teriak salah satu ibu. "Kyaa! Aku pingsan!" teriak ibu-ibu yang mulai pusing melihat mereka. "Culik mereka! Culik mereka!" "..." Emm, sepertinya tadi ada ibu-ibu gila lewat. Abaikan saja~ . . . . . Luka~ "Kushina!" suara teriakan seseorang membuat, wanita berambut merah panjang yang kini tengah menggandeng tangan putranya menoleh ke sumber suara itu. Kushina Uzumaki, Naruto yang mendengar juga pun ikut-ikutan menengok. Mereka memang sedang berbelanja bersama di sebuah mall, sekedar membeli bahan-bahan makanan. Tanpa di sangka-sangka bisa bertemu dengan, "Ah, Mizuki!" Kushina melebarkan senyumannya saat melihat salah satu sahabatnya ternyata juga tengah berbelanja di sana. Wanita berambut indigo panjang persis seperti Hinata, berjalan menghampirinya. Dengan senyum anggun dan tak lupa menggandeng Hinata di sampingnya. "Kau sedang berbelanja juga?" tanya Mizuki cepat, menatap sekilas Naruto. "Ya, Naruto merengek ingin membeli ramen kesukaannya~" desah Kushina, Mizuki tertawa mendengar perkataannya. Wanita itu menunduk, dan mensejajarkan wajahnya tepat di depan Naruto. "Basan tidak mengira bisa bertemu denganmu di sini, Naruto-kun~" ujarnya lembut. Naruto langsung saja mengeluarkan cengiran lima jarinya, "Ehehe, Kaasan bilang hari ini aku boleh membeli ramen kalau mau membersihkan kamarku sendiri!" seru anak kecil itu senang. Sedangkan Kushina hanya memang Mizuki dengan tatapan 'Lihat kan~' Wanita berambut indigo itu kembali mengembalikan posisinya, dan maniknya kini beralih pada Hinata, putrinya. "Nah, Hinata pulang dari mall nanti kau ingin bermain bersama Naruto-kun?" tanya Mizuki. Membuat Hinata menatap Kaasannya senang, bibirnya terbuka sekilas. "Boleh Kaasan?" tanyanya balik. Mizuki mengangguk kecil, "Boleh, kebetulan Kaasan juga ingin mampir ke rumah Kushina-basan~" "Oke, kalian berdua sudah selesai berbelanja kan?" Kushina segera melepaskan pegangan tangannya pada Naruto. Dan putranya tanpa aba-aba lagi, berlari mendekati Hinata. Wajah anak kecil pirang itu menatap Mizuki, "Basan, Hinata biar sama aku saja." ucapnya polos, "Um, Kaasan bisa mengobrol dengan Kushina-basan~" lanjut Hinata setuju, dan seolah-olah mengerti. Pegangan Mizuki ikut terlepas, membiarkan kedua anak kecil itu saling bergandengan tangan di depan mereka. "..." Kedua wanita itu saling pandang tanpa sadar, "Hum, tidak apa-apa kan kalau mereka seperti itu?" tanya Mizuki pelan. Kushina sedikit mengerti maksud sahabatnya, hanya bisa menggaruk-garuk pipinya yang tak gatal, "Yah, hanya pegangan tangan tidak masalah kan~" jawabnya singkat. "..." "Kau, benar~" OoOoOoOoOoOoOOooO Sesampainya di kediaman Uzumaki~ Kushina segera mempersilahkan Mizuki untuk masuk ke dalam rumah, sedangkan Naruto sendiri sudah mengajak Hinata berlari ke pekarangan untuk bermain tangkap bola. "Ayo, masuk Mizuki," ajak wanita merah cantik itu yang di jawab anggukan kepala sahabatnya. "Minato tidak ada di rumah?" tanya Mizuki, ketika tidak melihat tanda-tanda keberadaan suami Kushina. "Dia masih ada rapat di kantornya~" "Oh, gomenne aku tiba-tiba saja mampir ke rumahmu," Kushina mengernyitkan alisnya sekali lagi mendengar perkatan Mizuki, wanita itu mendengus geli dan menepuk pelan punggung sahabatnya. "Kau ini seperti bicara pada siapa saja, kapan pun kau ingin mampir ke sini, aku pasti dengan senang hati menyambut~" jelasnya cepat. "Arigatou Kushina~ Dan saat kedua wanita itu saling tersenyum satu sama lain, "Kyahaha, ini bolanya Naruto-kun!" suara teriakan-teriakan Naruto serta Hinata menginterupsi mereka. "Lebih baik kita berbicara di teras pekarangan saja, sekalian mengawasi Naruto dan Hinata~" ajak Kushina, "Ide bagus." Keduanya segera berjalan menuju teras, dan mendapati putra-putri mereka tengah asyik bermain. OoOoOoOoOoOoOoOoO "Tangkap Hinata!" seru Naruto, melempar bola di tangannya ke arah Hinata. "Hya!" dan dengan sigap gadis kecil itu mampu menangkapnya, mempersiapkan posenya untuk melempar kembali bola tadi. "Hyaa! Tangkap Naruto-kun," "Oke!" "Tangkap lagi Hinata, super attack!" seru Naruto, saking semangatnya anak kecil itu, sampai-sampai membuat lemparannya jauh dari daya tangkap Hinata. Wushh! Gadis kecil itu mencoba menggapai lemparan Naruto tapi nihil, yang ada saat Hinata meloncat tinggi. Ia malah tidak bisa mengatur keseimbangannya dan langsung saja, "Kyaa!" Bruk! Hinata terjatuh di tanah, tubuh mungilnya membentur tanah sedikit keras. Memberikan efek debuman. Naruto panik seketika. "Hinata, Daijoubu!" serunya cepat, "..." Hinata yang di tanya, tiba-tiba terdiam tidak menjawab. Gadis kecil itu mengigit bibir bawahnya tanpa sadar. Tangannya yang terasa sakit akibat benturan tadi, sepertinya sedikit luka. Wajahnya yang tadi bersih pun kini terkena noda tanah. Dan saat Hinata jatuh, Kushina serta Mizuki melihat kejadian itu. Langsung saja menghampiri keduanya, tapi gerakan mereka seketika terhenti saat.. [...] "Na..Naruto-kun.." manik Hinata membulat lebar, berkaca-kaca menahan rasa sakit, menatap wajah Naruto yang tak kalah khawatirnya. "Kau tidak apa-apa? Gomenne, tadi lemparanku keras sekali," sesal sang Uzumaki cepat, Hinata menggeleng pelan, "Se..sepertinya tanganku luka," ujarnya kembali. "Mana coba lihat?" tangan tan Naruto segera mengamit tangan mungil Hinata, dapat ia lihat sebuah goresan yang memerah di telapak tangan gadis itu. Membuatnya semakin merasa bersalah. "Sakit ya?" Hinata dengan polosnya mengangguk kecil, mengusap air mata yang akhirnya jatuh di pipinya, dan terisak pelan, "Perih," bisiknya. "Hu..Huwaa, Gomenne! Hush, hush, hush, luka pergi, pergi jangan ganggu Hinata lagi!" Naruto tiba-tiba saja meniup-niup luka Hinata dan mengucapkan kalimat-kalimat tadi. "Naruto-kun? Itu apa?" Hinata mengadahkan wajahnya merasa aneh dengan perkataan Naruto. "Itu mantra supaya rasa sakitmu hilang, hush, hush, sakit pergi jauh!" seru Naruto kembali. "Mantra?" "Iya, Kaasan sering bilang itu padaku." Masih dengan acara meniup-niup luka Hinata, membuat gadis kecil tadi perlahan-lahan merasakan rasa sejuk di telapak tangannya. Perih yang tadi ia rasakan sepertinya berangsur-angsur hilang, "Tanganku sejuk Naruto-kun," ujarnya cepat, ikut-ikutan meniup lukanya. Manik Saphire Naruto memandang Hinata sekilas, tersenyum kecil, sampai saat ia kembali menatap luka Hinata.. "..." Merah, tangan sahabatnya itu mengeluarkan sedikit darah. "Huaa! Berdarah, berdarah, berdarah!" pemuda kecil itu berteriak keras, saat melihat setetes darah yang mengalir dari goresan tadi. Padahal hanya setitik darah tapi mampu membuatnya kalang kabut, Hinata jadi ikutan panik, "Ba..bagaimana ini, na..nanti aku pasti ma..ma.." "Jangan bilang! Ingat, ingat, Kaasan pernah bilang kalau misalnya darah keluar itu harus, harus..." wajah Naruto mengkerut memikirkan perkataan Kaasannya. "Naruto-kun," "Tunggu sebentar," otak pemuda kecil itu seolah berputar. "Aku pernah lihat, saat Kaasan terluka gara-gara tangannya tergores pisau, Tousan pasti...pasti..um apa yaa?!" Ia mulai bingung. "Hiks, hiks, darahnya Naruto-kun," Hinata kembali terisak. "..." Dan sepertinya beberapa detik berpikir membuatnya mendapat jawaban. "Ah! Jilat! Tousan menjilat luka Kaasan, supaya darahnya tidak jatuh!" seru Naruto senang, Sedangkan Hinata masih tidak mengerti, "Jilat?" "Iya, kujilat saja ya lukanya?!" Naruto dengan lembut menarik telapak tangan Hinata yang tadi masih mengeluarkan sedikit darah, dan bersiap-siap untuk menjilatnya sebelum.. [...] "Kyaa! Naruto, cukup!" Kushina dan Mizuki berlari menerjang kedua anak kecil itu panik. Kenapa Naruto bisa berpikiran polos seperti itu, apa pemuda pirang ini tidak takut ada bakteri yang hinggap di luka Hinata. Mizuki segera menggendong tubuh mungil Hinata cepat, begitu juga dengan Kushina. "Hee, Kaasan, aku belum jilat lukanya Hinata!" Naruto merengek, "Na..Naruto, nanti lukanya Hinata biar Basan yang bersihkan ya~" ujar Mizuki lembut, menyembunyikan raut gugupnya. Masih mengerucutkan bibirnya, "Tapi, tapi aku pernah lihat Tousan jilat luka Kaasan, dan Tousan bilang itu lebih ampuh dari obat apapun. Jadi aku mau jilat luka Hinata biar cepat sembuh!" rengeknya. Dan Mizuki yang mendengar itu sontak menoleh ke arah sahabat merahnya, mendelik memberikan tatapan, 'Kenapa Naruto bisa melihat aksi mesra kalian?' Kushina kontan memerah menahan malu. "Kaasan turunin aku!" "Eto Naruto, Kaasan jelaskan dulu ya," Naruto sepertinya tidak mendengarkan perkataan Kaasannya, "Mizuki-basan juga turunin Hinata, nanti biar aku yang nyembuhin, pasti cepat sembuh! Ya, Hinata~" "I..iya, Naruto-kun benar, Kaasan!" "..." Sepertinya Kushina benar-benar membutuhkan waktu yang panjang untuk memberikan penjelasan pada kedua anak kecil polos ini~ The End~ sumber: www.fanfiction.net

NGIN BERSAMAMU


Puisi: Ressa Elia 

Aku tak prnah ingin melupakan dirimu. 
Apalagi benci. 
Sekian masa sekian cerita tlah kita lewati. 
Suka dan duka brsama. 
Sungguh berat untuk kulupakan. 

Sangat tak mungkin untuk benci. 
Karena kau sangat berkesan. 
Karena kau sangat mendalam. 
Percayalah kekasihku. 
Hanya satu kau kasihku. 

Dan hanya satu inginku. 
Hidup bersama denganmu. 



Dering bel berbunyi. Aku merasakan kakiku berat untuk melangkah keluar dari kelas. Bukannya aku sakit, malahan aku sehat sekali dan jarang terserang penyakit karena mamaku selalu rutin untuk menyuruhku makan tepat waktu dan bergizi. Hanya saja kali ini aku sedang malas, semalas-malasnya.
Alasannya satu, dan setiap hari itulah aku merasakan tanda-tanda gejala yang tak biasa, seperti sakit perut, pusing, atau kaki sulit melangkah. Ya, setiap hari rabu, aku akan mengalaminya. Karena bertemu dengan orang itu.
“La! Kamu pulang dengan orang itu?” temanku mengagetkanku dari belakang.
Aku mengangguk lemah. “Ya…”
“Idiiih… dijemput anak kece kok malah murung gitu sih? Nanti kalau kamu nggak cepat, bisa diambil orang lho!”
Terlambat aku ingin mencubit pipi Garia yang tembem itu. Dia sudah ngeloyor pergi dengan mobil barunya. Maklum, di sekolah ini tidak heran lagi murid-muridnya gonta-ganti mobil setiap naik kelas.
Aku menginginkan hal ini. Namun entah apa yang dipikirkan mamaku. Sejak papa pindah tugas ke luar kota, dia jadi protektif sekali padaku. Aku tidak diizinkan ke mana-mana tanpa diantar-jemput. Terkecuali jika aku jalan kaki. Kurasa ini siasat mama agar aku tak dapat mobil baru dan ikut-ikutan tren teman-temanku.
Nah, karena setiap hari rabu mamaku kerja lembur tanpa istirahat, maka aku pun dititipkannya ke salah seorang tetanggaku yang lagi senggang. Orang itulah yang membuat gejala penyakit di tubuhku tiba-tiba muncul.
“Harla, cepat dong, mustangnya sudah nungguin dari tadi, tuh,” kata Ververo di dalam volvo silvernya. Di sebelahnya ada cewek lain dari hari kemarin, sedang sibuk berdandan.
“Eh, urus tuh cewek baru kamu,” tukasku geram, memutari volvonya yang nangker di depanku.
“La, kalau kamu nggak sama dia, sudah dari dulu aku ngantar kamu pulang, kesempatan banget kan berdua dengan Harlali Kerswaight!” godanya sambil mengedipkan sebelah mata cokelatnya.
Dasar gombal. Tinggal beberapa langkah lagi aku berada di depan mustang merah itu. Yang selalu nangkring di bawah pohon willow paling rindang di depan halaman sekolah. Pengemudinya membelakangiku, memencet sesuatu di tab-nya. Ada headphone terpasang di kedua telinganya.
Ketika aku semakin mendekat, aku sempat memperhatikan matanya yang tak kelihatan karena kacamata gaya hitam itu menatap ke spion. Bergegas dicabutnya headphone, kemudian membuka pintu di sebelahnya. Tepat ketika aku hendak masuk, dia menyalakan mesin mobilnya dan menarik ke atas kacamatanya.
“Gimana sekolahmu hari ini?” tanya orang itu tanpa mengalihkan tatapannya dari jalan, meskipun aku bisa melihat betapa cerahnya bola biru di matanya. Rambutnya seperti landak, tapi lebih tebal. Hidungnya mancung, seperti kebanyakan remaja dari kami semua. Dan bibirnya tipis. Sehingga kalau digabungkan menjadi satu, terbentuklah wajah yang rupawan.
Sayangnya karena bibir itu tak melengkung ke atas, aku pun tak bisa melihat betapa indahnya wajah itu. Jadi inilah yang membuatku paling malas pulang bersamanya. Kalau tidak ingat omelan mama dan papa nanti, sudah pasti aku kabur dan nebeng pulang dengan teman-temanku.
“Baik,” jawabku singkat. Aku tahu dia hanya basa-basi. Semua itu dilakukan agar tidak terjadi kebisuan sepanjang perjalanan kami selama 20 menit.
Dan satu hal lagi yang perlu diketahui, orang ini tetangga depan rumahku. Dia kuliah di dekat sekolah, jadi pada sore begini, kuliahnya pun sudah usai. Itulah sebabnya dia selalu menungguku, datang lebih cepat daripada bel pulang sekolah berbunyi.
Selanjutnya dalam perjalanan kami, diisi oleh lagunya Owl City – When Can I See You Again. Aku tak tahu mengapa lagunya begitu kekanak-kanakan mengingat umurnya, tapi aku diam saja. Toh ini mobilnya.
“Oh iya, ini untukmu,” dia mengeluarkan sepasang tiket konser ketika setengah perjalanan kami lalui dengan keheningan. Keningku berkerut.
“Untuk apa?”
“Aku live show di sana, kamu kuundang,” sahutnya, dengan mata ke jalan. Aku sadar selama ini dia tak pernah menatap langsung ke mataku.
“Kenapa ada dua tiket?” tanyaku lagi.
“Biasanya yang namanya cewek itu nggak biasa pergi sendiri, jadi kamu bisa ajak teman – atau pacarmu,” jelasnya sambil lalu.
Aku manggut-manggut. “Makasih.”
Dia mengangguk kecil, “sama-sama.”
Sebenarnya aku paling malas datang ke tempat seperti itu. Terutama konser musik anak kuliahan? Aduuuh! Aku tahu hal ini beberapa hari sebelumnya bahwa di kampus orang itu akan diadakan gebyar events, salah satunya konser. Teman-temanku sudah berunding dan mengajakku, hanya saja aku pikir-pikir. Terutama orangtuaku yang sulit sekali membiarkanku lepas begitu saja.
Teman-temanku tahu soal itu. Maka mereka tak terlalu memaksaku. Anehnya mamaku membiarkanku pergi begitu saja.
“Beneran nih, ma?”
“Iya, pergi aja,”
Aku melongo melihatnya. Tapi akhirnya aku pergi juga ke sana – bersama orang itu! Huh, hampir aku tak jadi nonton kalau mama malah mulai ngomel.
“Kamu itu numpang orang, masa udah janji mau ingkar!”
“Kan temanku ada, Ma!” kataku tak mau kalah.
“Harla, Drek sudah nawarin, kok kamu gitu sih?” Nama orang itu Drek. Cowok berkacamata hitam dengan Ford Mustang merah yang membuatnya tambah kece.
“Aku kan nggak ada janji dengan dia, nggak mengiyakan juga,”
“Pokoknya mama lebih percaya kamu pergi sama Drek. Selain itu, dia lebih mengenal tempat konser itu karena kampusnya, dan dia juga main di sana. Jadi kalau ada apa-apa sama kamu, dia juga mau tanggung jawab.”
Aku tak bisa membantah lagi. Kalau mama sudah denagr kata “tanggung jawab”, mau tak mau aku akan ikut saja mengekor perintahnya.

“Kenapa?” tanyaku heran. Drek tak bergerak untuk menarik gigi dan meluncur juga. Aku agak risi dibuatnya, karena aku tahu di balik kacamata hitamnya itu, bola mata cokelatnya sedang menatapku. Apa yang salah dengan bajuku? Dress tanpa lengan, dengan sweeter putih cerah. Memang sih, aku mengurai rambutku yang selama ini selalu kujepit asal-asalan. Maklum, konser malam begini, sudah pasti udara dingin. Akhirnya karena dia tak menjalankan mobilnya juga, aku mendengus keras. “Kamu mau terlambat?”
Dia seperti tersadar dari lamunannya dan melaju gila-gilaan. Menyalip kendaraan lain di jalanan. Aku merasa mama bakal pingsan kalau tahu putri satu-satunya ini dibawa oleh pembalap komplotan geng mobil berkedok cowok band.
“Jam 10 aku sudah di sini,” kata Drek ketika kami tiba di parkiran.
Aku mengangguk dan mencari temanku, sementara Drek sudah pergi entah ke mana. Akhirnya aku menemukan mereka sudah memesan tempat. Kami masuk ke aula, dan tak berapa lama kemudian moderator menyambut ketika acara dimulai dan lampu dimatikan. Sehingga yang tersisa hanya lampu yang menyinari semua pemusik. Serta kerlap-kerlip cahaya lampu disko.
Musik berdentang-dentang, dan aku sadar teman-temanku dan penonton lain sudah bersorak sorai tak jelas. Tibalah akhirnya ketika kulihat band Drek muncul, dengan dirinya menggenggam mic. Lho? Aku baru tahu dia seorang vokalis utama. Selama ini, selama perjalanan pulang ke rumah tiap hari rabu, kami tak perna membicarakan apa pun kecuali bertukar apa kabar-baik-sehat?-oke- dan sebagainya.
Sekilas, aku bisa merasakan bola matanya membidikku. Aku tak mengerti bagaimana dia dapat menemukan di ramainya ribuan penonton.
“Marilah kita sambut Fly Away dengan membawakan lagu Owl City – When Can I See You Again!!!”
Dan Drek mulai bernyanyi, dengan gitar yang dipetik di tangannya… dia berkata lantang, “Terimakasih para hadirin, lagu ini khususnya kupersembahkan pada seorang gadis yang selalu berada di sisiku setiap hari rabu.”
When can we do this again?
When can I see you again?
When can we do this again?
When can I see you again?
When can we do this again?
When can I see you again?
Switch on the sky and the stars glow for you
Go see the world ‘cause it’s all so brand new
Don’t close your eyes ‘cause your futures’s ready to shine
It’s just a matter of time, before we learn how to fly
Welcome to the rhythm of the night
There’s something in the air you can’t deny
It’s been fun but now I’ve got to go
Life it way too short to take it slow
But before I go and hit the road
I gotta know, ‘til then,
when can we do this again?
Oh oh oh oh
When can I see you again?
Oh oh oh oh
When can we do this again?
Oh oh oh oh
I gotta know, when can I see you again?
(When can I see you again?)
Joined at the hip, yeah your sidekick needs you
Life is a trip down the road that leads you
Look all around at all the mountains you haven’t climbed
It’s just a matter of time, before we learn how to fly
Welcome to the rhythm of the night
There’s something in the air you can’t deny
It’s been fun but now I’ve got to go
Life is way too short to take it slow
But before I go and hit the road
I gotta know, ‘til then,
when can we do this again?
Oh oh oh oh
When can I see you again?
Oh oh oh oh
When can we do this again?
Oh oh oh oh
I gotta know,
When can I see you again?
Don’t close your eyes ‘cause your futures’s ready to shine
It’s just a matter of time, before we learn how to fly
Welcome to the rhythm of the night
There’s something in the air you can’t deny
So let me know before I wave goodbye
When can I see you again?
Oh oh oh oh
When can we do this again?
Oh oh oh oh
When can I see you again?
Oh oh oh oh
When can we do this again?
Oh oh oh oh
Yeah, it’s been fun but now I’ve got to go
Life is way too short to take it slow
But before I go and hit the road
Tell me when
When can I see you again?
When can I see you again?
Tell me when
When can I see you again?
Aku terbelalak, tak sanggup menahan rasa kagetku ketika diakhir nyanyian itu lagi-lagi dia menatapku dan tersenyum lebar, kemudian mengambil mic dan berseru lantang, “For You, Harlali Kerswaight, When can I see you again, except Wednesday?”
Air mataku membuncah keluar, ada perasaan hangat mengalir di dalam hatiku, dan aku membisikkan, “everyday…”
END
Cerpen Karangan: Lunariel
Sumber: cerpenmu.com
 
Copyright © 2010 Kumpulan Puisi dan Cerpen Romantis | Design : Noyod.Com