Selasa, 08 April 2014




Dering bel berbunyi. Aku merasakan kakiku berat untuk melangkah keluar dari kelas. Bukannya aku sakit, malahan aku sehat sekali dan jarang terserang penyakit karena mamaku selalu rutin untuk menyuruhku makan tepat waktu dan bergizi. Hanya saja kali ini aku sedang malas, semalas-malasnya.
Alasannya satu, dan setiap hari itulah aku merasakan tanda-tanda gejala yang tak biasa, seperti sakit perut, pusing, atau kaki sulit melangkah. Ya, setiap hari rabu, aku akan mengalaminya. Karena bertemu dengan orang itu.
“La! Kamu pulang dengan orang itu?” temanku mengagetkanku dari belakang.
Aku mengangguk lemah. “Ya…”
“Idiiih… dijemput anak kece kok malah murung gitu sih? Nanti kalau kamu nggak cepat, bisa diambil orang lho!”
Terlambat aku ingin mencubit pipi Garia yang tembem itu. Dia sudah ngeloyor pergi dengan mobil barunya. Maklum, di sekolah ini tidak heran lagi murid-muridnya gonta-ganti mobil setiap naik kelas.
Aku menginginkan hal ini. Namun entah apa yang dipikirkan mamaku. Sejak papa pindah tugas ke luar kota, dia jadi protektif sekali padaku. Aku tidak diizinkan ke mana-mana tanpa diantar-jemput. Terkecuali jika aku jalan kaki. Kurasa ini siasat mama agar aku tak dapat mobil baru dan ikut-ikutan tren teman-temanku.
Nah, karena setiap hari rabu mamaku kerja lembur tanpa istirahat, maka aku pun dititipkannya ke salah seorang tetanggaku yang lagi senggang. Orang itulah yang membuat gejala penyakit di tubuhku tiba-tiba muncul.
“Harla, cepat dong, mustangnya sudah nungguin dari tadi, tuh,” kata Ververo di dalam volvo silvernya. Di sebelahnya ada cewek lain dari hari kemarin, sedang sibuk berdandan.
“Eh, urus tuh cewek baru kamu,” tukasku geram, memutari volvonya yang nangker di depanku.
“La, kalau kamu nggak sama dia, sudah dari dulu aku ngantar kamu pulang, kesempatan banget kan berdua dengan Harlali Kerswaight!” godanya sambil mengedipkan sebelah mata cokelatnya.
Dasar gombal. Tinggal beberapa langkah lagi aku berada di depan mustang merah itu. Yang selalu nangkring di bawah pohon willow paling rindang di depan halaman sekolah. Pengemudinya membelakangiku, memencet sesuatu di tab-nya. Ada headphone terpasang di kedua telinganya.
Ketika aku semakin mendekat, aku sempat memperhatikan matanya yang tak kelihatan karena kacamata gaya hitam itu menatap ke spion. Bergegas dicabutnya headphone, kemudian membuka pintu di sebelahnya. Tepat ketika aku hendak masuk, dia menyalakan mesin mobilnya dan menarik ke atas kacamatanya.
“Gimana sekolahmu hari ini?” tanya orang itu tanpa mengalihkan tatapannya dari jalan, meskipun aku bisa melihat betapa cerahnya bola biru di matanya. Rambutnya seperti landak, tapi lebih tebal. Hidungnya mancung, seperti kebanyakan remaja dari kami semua. Dan bibirnya tipis. Sehingga kalau digabungkan menjadi satu, terbentuklah wajah yang rupawan.
Sayangnya karena bibir itu tak melengkung ke atas, aku pun tak bisa melihat betapa indahnya wajah itu. Jadi inilah yang membuatku paling malas pulang bersamanya. Kalau tidak ingat omelan mama dan papa nanti, sudah pasti aku kabur dan nebeng pulang dengan teman-temanku.
“Baik,” jawabku singkat. Aku tahu dia hanya basa-basi. Semua itu dilakukan agar tidak terjadi kebisuan sepanjang perjalanan kami selama 20 menit.
Dan satu hal lagi yang perlu diketahui, orang ini tetangga depan rumahku. Dia kuliah di dekat sekolah, jadi pada sore begini, kuliahnya pun sudah usai. Itulah sebabnya dia selalu menungguku, datang lebih cepat daripada bel pulang sekolah berbunyi.
Selanjutnya dalam perjalanan kami, diisi oleh lagunya Owl City – When Can I See You Again. Aku tak tahu mengapa lagunya begitu kekanak-kanakan mengingat umurnya, tapi aku diam saja. Toh ini mobilnya.
“Oh iya, ini untukmu,” dia mengeluarkan sepasang tiket konser ketika setengah perjalanan kami lalui dengan keheningan. Keningku berkerut.
“Untuk apa?”
“Aku live show di sana, kamu kuundang,” sahutnya, dengan mata ke jalan. Aku sadar selama ini dia tak pernah menatap langsung ke mataku.
“Kenapa ada dua tiket?” tanyaku lagi.
“Biasanya yang namanya cewek itu nggak biasa pergi sendiri, jadi kamu bisa ajak teman – atau pacarmu,” jelasnya sambil lalu.
Aku manggut-manggut. “Makasih.”
Dia mengangguk kecil, “sama-sama.”
Sebenarnya aku paling malas datang ke tempat seperti itu. Terutama konser musik anak kuliahan? Aduuuh! Aku tahu hal ini beberapa hari sebelumnya bahwa di kampus orang itu akan diadakan gebyar events, salah satunya konser. Teman-temanku sudah berunding dan mengajakku, hanya saja aku pikir-pikir. Terutama orangtuaku yang sulit sekali membiarkanku lepas begitu saja.
Teman-temanku tahu soal itu. Maka mereka tak terlalu memaksaku. Anehnya mamaku membiarkanku pergi begitu saja.
“Beneran nih, ma?”
“Iya, pergi aja,”
Aku melongo melihatnya. Tapi akhirnya aku pergi juga ke sana – bersama orang itu! Huh, hampir aku tak jadi nonton kalau mama malah mulai ngomel.
“Kamu itu numpang orang, masa udah janji mau ingkar!”
“Kan temanku ada, Ma!” kataku tak mau kalah.
“Harla, Drek sudah nawarin, kok kamu gitu sih?” Nama orang itu Drek. Cowok berkacamata hitam dengan Ford Mustang merah yang membuatnya tambah kece.
“Aku kan nggak ada janji dengan dia, nggak mengiyakan juga,”
“Pokoknya mama lebih percaya kamu pergi sama Drek. Selain itu, dia lebih mengenal tempat konser itu karena kampusnya, dan dia juga main di sana. Jadi kalau ada apa-apa sama kamu, dia juga mau tanggung jawab.”
Aku tak bisa membantah lagi. Kalau mama sudah denagr kata “tanggung jawab”, mau tak mau aku akan ikut saja mengekor perintahnya.

“Kenapa?” tanyaku heran. Drek tak bergerak untuk menarik gigi dan meluncur juga. Aku agak risi dibuatnya, karena aku tahu di balik kacamata hitamnya itu, bola mata cokelatnya sedang menatapku. Apa yang salah dengan bajuku? Dress tanpa lengan, dengan sweeter putih cerah. Memang sih, aku mengurai rambutku yang selama ini selalu kujepit asal-asalan. Maklum, konser malam begini, sudah pasti udara dingin. Akhirnya karena dia tak menjalankan mobilnya juga, aku mendengus keras. “Kamu mau terlambat?”
Dia seperti tersadar dari lamunannya dan melaju gila-gilaan. Menyalip kendaraan lain di jalanan. Aku merasa mama bakal pingsan kalau tahu putri satu-satunya ini dibawa oleh pembalap komplotan geng mobil berkedok cowok band.
“Jam 10 aku sudah di sini,” kata Drek ketika kami tiba di parkiran.
Aku mengangguk dan mencari temanku, sementara Drek sudah pergi entah ke mana. Akhirnya aku menemukan mereka sudah memesan tempat. Kami masuk ke aula, dan tak berapa lama kemudian moderator menyambut ketika acara dimulai dan lampu dimatikan. Sehingga yang tersisa hanya lampu yang menyinari semua pemusik. Serta kerlap-kerlip cahaya lampu disko.
Musik berdentang-dentang, dan aku sadar teman-temanku dan penonton lain sudah bersorak sorai tak jelas. Tibalah akhirnya ketika kulihat band Drek muncul, dengan dirinya menggenggam mic. Lho? Aku baru tahu dia seorang vokalis utama. Selama ini, selama perjalanan pulang ke rumah tiap hari rabu, kami tak perna membicarakan apa pun kecuali bertukar apa kabar-baik-sehat?-oke- dan sebagainya.
Sekilas, aku bisa merasakan bola matanya membidikku. Aku tak mengerti bagaimana dia dapat menemukan di ramainya ribuan penonton.
“Marilah kita sambut Fly Away dengan membawakan lagu Owl City – When Can I See You Again!!!”
Dan Drek mulai bernyanyi, dengan gitar yang dipetik di tangannya… dia berkata lantang, “Terimakasih para hadirin, lagu ini khususnya kupersembahkan pada seorang gadis yang selalu berada di sisiku setiap hari rabu.”
When can we do this again?
When can I see you again?
When can we do this again?
When can I see you again?
When can we do this again?
When can I see you again?
Switch on the sky and the stars glow for you
Go see the world ‘cause it’s all so brand new
Don’t close your eyes ‘cause your futures’s ready to shine
It’s just a matter of time, before we learn how to fly
Welcome to the rhythm of the night
There’s something in the air you can’t deny
It’s been fun but now I’ve got to go
Life it way too short to take it slow
But before I go and hit the road
I gotta know, ‘til then,
when can we do this again?
Oh oh oh oh
When can I see you again?
Oh oh oh oh
When can we do this again?
Oh oh oh oh
I gotta know, when can I see you again?
(When can I see you again?)
Joined at the hip, yeah your sidekick needs you
Life is a trip down the road that leads you
Look all around at all the mountains you haven’t climbed
It’s just a matter of time, before we learn how to fly
Welcome to the rhythm of the night
There’s something in the air you can’t deny
It’s been fun but now I’ve got to go
Life is way too short to take it slow
But before I go and hit the road
I gotta know, ‘til then,
when can we do this again?
Oh oh oh oh
When can I see you again?
Oh oh oh oh
When can we do this again?
Oh oh oh oh
I gotta know,
When can I see you again?
Don’t close your eyes ‘cause your futures’s ready to shine
It’s just a matter of time, before we learn how to fly
Welcome to the rhythm of the night
There’s something in the air you can’t deny
So let me know before I wave goodbye
When can I see you again?
Oh oh oh oh
When can we do this again?
Oh oh oh oh
When can I see you again?
Oh oh oh oh
When can we do this again?
Oh oh oh oh
Yeah, it’s been fun but now I’ve got to go
Life is way too short to take it slow
But before I go and hit the road
Tell me when
When can I see you again?
When can I see you again?
Tell me when
When can I see you again?
Aku terbelalak, tak sanggup menahan rasa kagetku ketika diakhir nyanyian itu lagi-lagi dia menatapku dan tersenyum lebar, kemudian mengambil mic dan berseru lantang, “For You, Harlali Kerswaight, When can I see you again, except Wednesday?”
Air mataku membuncah keluar, ada perasaan hangat mengalir di dalam hatiku, dan aku membisikkan, “everyday…”
END
Cerpen Karangan: Lunariel
Sumber: cerpenmu.com

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2010 Kumpulan Puisi dan Cerpen Romantis | Design : Noyod.Com